Beberapa tahun lalu, ketika mendengar istilah Generative AI, hal pertama yang mungkin terlintas adalah chatbot yang dapat menjawab pertanyaan atau teknologi yang mampu membuat gambar dari sebuah perintah.
Sekarang, kemampuannya sudah berkembang jauh lebih luas.
Generative AI mulai digunakan untuk membantu membuat dokumen, merangkum informasi, menganalisis data, menulis kode, menyusun ide, hingga membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan yang sebelumnya dilakukan sepenuhnya secara manual.
Perubahan ini membuat Generative AI tidak lagi sekadar menjadi teknologi untuk menghasilkan konten. AI mulai menjadi bagian dari cara orang bekerja.
Pada awal perkembangannya, Generative AI banyak dikenal karena kemampuannya menghasilkan teks, gambar, maupun berbagai bentuk konten lainnya.
Namun, penggunaan di dunia kerja mulai bergerak ke arah yang berbeda.
Seorang staf dapat menggunakan AI untuk membantu merangkum dokumen yang panjang. Tim marketing dapat menggunakannya untuk mengembangkan ide kampanye. Programmer dapat memanfaatkannya untuk membantu memahami kode atau membuat bagian tertentu dari program.
Artinya, AI tidak hanya menghasilkan sesuatu dari perintah pengguna, tetapi mulai digunakan untuk membantu menyelesaikan bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Perubahan inilah yang membuat pembahasan mengenai Generative AI menjadi semakin relevan bagi dunia kerja.
Kemunculan AI sering dikaitkan dengan kekhawatiran bahwa manusia akan kehilangan pekerjaannya.
Namun, dalam banyak kasus, perubahan yang terjadi justru berada pada tingkat tugas.
Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama untuk dilakukan secara manual dapat dibantu oleh AI. Sementara itu, manusia tetap diperlukan untuk menentukan tujuan, memberikan konteks, memeriksa hasil, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas output yang digunakan.
Dengan kata lain, kemampuan menggunakan AI dapat menjadi pelengkap terhadap kompetensi yang sudah dimiliki seseorang.
Seorang programmer tetap membutuhkan pemahaman pemrograman. Seorang analis tetap perlu memahami data. Seorang marketer tetap perlu memahami target audiens dan strategi komunikasi.
AI membantu mempercepat prosesnya, tetapi pemahaman terhadap bidang pekerjaan tetap menjadi bagian penting.
Salah satu perubahan yang mulai terlihat adalah penggunaan AI sebagai copilot dalam pekerjaan.
Konsepnya bukan menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI, melainkan menggunakan AI sebagai pendamping untuk membantu menyelesaikan tugas tertentu.
Misalnya, seseorang dapat meminta AI membantu membuat draft awal, kemudian melakukan pemeriksaan dan penyempurnaan sendiri. Dalam pekerjaan pemrograman, AI dapat membantu menghasilkan potongan kode, sementara developer tetap bertanggung jawab memastikan kode tersebut benar dan aman digunakan.
Pendekatan seperti ini membuat manusia tetap berada dalam proses pengambilan keputusan, sementara AI digunakan untuk meningkatkan kecepatan dan produktivitas.
Banyak pembahasan mengenai Generative AI berfokus pada kemampuan membuat prompt yang baik.
Kemampuan tersebut memang berguna, tetapi bukan satu-satunya kompetensi yang dibutuhkan.
Menggunakan Generative AI di lingkungan kerja juga membutuhkan kemampuan untuk mengevaluasi hasil yang diberikan. AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi ternyata tidak akurat.
Pengguna juga perlu memahami kapan informasi harus diverifikasi, bagaimana memberikan konteks yang tepat, serta data apa yang sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam layanan AI.
Karena itu, literasi AI tidak berhenti pada kemampuan memberikan instruksi kepada AI.
Pengguna juga perlu memahami cara menilai, memverifikasi, dan menggunakan hasil AI secara bertanggung jawab.
Semakin mudah Generative AI digunakan, semakin penting pula memahami risikonya.
Salah satu tantangannya adalah akurasi. AI dapat menghasilkan informasi yang salah atau tidak sesuai konteks.
Ada pula persoalan keamanan data. Memasukkan dokumen internal, informasi pelanggan, kode sumber, atau data perusahaan ke layanan AI tanpa memahami kebijakan penggunaannya dapat menimbulkan risiko baru.
Selain itu, perusahaan juga perlu mempertimbangkan bagaimana AI diintegrasikan ke dalam proses kerja agar penggunaannya benar-benar memberikan manfaat.
Teknologi yang canggih tidak otomatis menghasilkan pekerjaan yang lebih baik jika digunakan tanpa pemahaman yang cukup.
Perkembangan Generative AI membuat kebutuhan kompetensi di dunia kerja ikut berubah.
Selain kemampuan teknis sesuai bidang masing-masing, pekerja mulai membutuhkan kemampuan seperti:
memahami cara kerja dasar Generative AI;
menyusun instruksi yang jelas;
mengevaluasi dan memverifikasi hasil AI;
memahami keamanan serta perlindungan data;
mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja;
memahami batasan dan risiko penggunaan AI.
Kompetensi tersebut dapat menjadi kombinasi antara AI literacy dan keahlian profesional yang sudah dimiliki.
Inilah yang membuat kemampuan menggunakan AI berpotensi menjadi bagian dari kompetensi kerja di berbagai bidang, bukan hanya pekerjaan yang berhubungan langsung dengan teknologi.
Perkembangan Generative AI menunjukkan bahwa perubahan teknologi tidak selalu hadir dalam bentuk mesin atau perangkat baru yang terlihat secara fisik.
Terkadang, perubahan justru terjadi pada cara seseorang menyelesaikan pekerjaannya.
Tugas yang membutuhkan waktu berjam-jam dapat dibantu menjadi lebih cepat. Proses mencari dan mengolah informasi dapat menjadi lebih praktis. Pekerjaan yang sebelumnya dimulai dari halaman kosong dapat memiliki draft awal dalam waktu singkat.
Namun, semakin besar peran AI dalam pekerjaan, semakin besar pula kebutuhan terhadap manusia yang mampu menggunakannya dengan tepat.
Bukan sekadar siapa yang menggunakan AI, tetapi siapa yang mampu memanfaatkan AI untuk bekerja lebih efektif tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan.
Generative AI pada akhirnya bukan hanya tentang membuat teks, gambar, atau kode. Teknologi ini mulai menjadi bagian dari cara kerja baru yang menuntut manusia untuk terus belajar dan beradaptasi.
| Syifa (082130264999) |
| Ocha (081224637296) |
| Margi (081394000042) |
| Tuti (081321237948) |